Maskulinisasi Ikan Platy Pedang (Xiphophorus hellerii) melalui Perendaman Larva dalam Larutan Madu dengan Dosis Berbeda

Authors

  • Ariatna Dewi Mangia Program Studi Akuakultur, Fakultas Peternakan dan Perikanan, Universitas Tadulako
  • Novalina Serdiati Program Studi Akuakultur, Fakultas Peternakan dan Perikanan, Universitas Tadulako
  • Irawati Mei Widiastuti Program Studi Akuakultur, Fakultas Peternakan dan Perikanan, Universitas Tadulako

DOI: https://doi.org/10.22487/jiagrisains.v24i1.2023.1-8

Keywords:

madu, maskulinisasi, platy pedang

Abstract

Ikan platy pedang jantan memiliki keindahan bentuk, warna lebih mencolok dibanding betina, sehingga harga jual ikan platy pedang jantan lebih tinggi dibandingkan dengan betina. Oleh karena itu, para pembudidaya berupaya meningkatkan produksi ikan platy pedang jantan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian dosis madu yang berbeda terhadap
maskulinisasi ikan platy pedang (Xiphophorus hellerii) melalui perendaman larva. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 5 kali ulangan. Perlakuan yang diujikan dalam penelitian yaitu perendaman larva dengan dosis madu 0 mL, 25 mL, 30 mL, dan 35 mL masing-masing per liter air. Hasil analisis ragam (ANOVA) penelitian menunjukkan bahwa perendaman larva ikan platy pedang (Xiphophorus hellerii) dalam larutan madu, berpengaruh nyata terhadap maskulinisasi (p<0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi dosis madu yang diberikan, semakin tinggi pula jumlah persentase jantan yang dihasilkan. Dengan demikian perendaman larva ikan platy pedang dalam larutan madu mampu mengarahkan gonad larva ikan platy pedang yang belum terdiferensiasi menjadi jantan. Perendaman dalam larutan madu dengan dosis 35 ml/L selama 7 jam menunjukkan persentase maskulinisasi tertinggi yaitu sebesar 67,86%.

References

Arfah, H., Tri, S. D., & Asep, B. (2013). Maskulinisasi ikan cupang (Betta splendens) melalui perendaman embrio dalam ekstrak purwoceng (Pimpinella alpina). Jurnal Akuakultur Indonesia, 12(2), 144–149.

Dean, W. (2004). Chrysin: is it an effective aromatase inhibitor. Vitamin Research Products News, 18(4), 4–5.

Haq, H. K., Yustiati, A., & Herawati, T. (2013). Pengaruh lama waktu perendaman induk dalam larutan madu terhadap pengalihan kelamin anak ikan gapi (Poecilia reticulata). Jurnal Perikanan dan Kelautan, 4(3), 117–125.

Herjayanto. (2012). Penggunaan madu melalui perendaman embrio fase bintik mata terhadap nisbah kelamin ikan cupang (Betta splendens Regan). Skripsi tidak diterbitkan. Palu: Porgram Studi Budidaya Perairan, Fakultas Pertanian, Universitas Tadulako.

Hunter, G. A., & Donaldson, E. M. (1983). 5 hormonal sex control and its application to fish culture. Fish Physiology, 9, 223–303.

Iskandar Johan, T., & Hasby, M. (2021). Effectiveness of sialang forest honey in maleisation of the platy pedang fish (Xiphophorus sp.). Egyptian Journal of Aquatic Biology and Fisheries, 25(1), 953–963.

Lubis, M. A., & Fitrani, M. (2017). Maskulinisasi ikan cupang (Betta sp.) menggunakan madu alami melalui metode perendaman dengan konsentrasi berbeda. Jurnal Akuakultur Rawa Indonesia, 5(1), 97–108.

Mariana, T. Y. (2009). Teknologi pengarahan kelamin ikan menggunakan madu. Pena Akuatika: Jurnal Ilmiah Perikanan Dan Kelautanan Kelautan, 1(1).

Nata, T. D. (2017). Efektivitas tepung ulat hongkong (Tenebrio molitor) sebagai pengganti tepung ikan dalam pakan buatan terhadap pertumbuhan benih ikan platy (Xiphophorus maculatus). Disertasi tidak diterbitkan. Lampung : Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Raden Intan.

Piferrer, F. (2001). Endocrine sex control strategies for the feminization of teleost fish. Aquaculture, 197(1–4), 229–281.

Pranoto, N. (2020). Pengaruh Penambahan Tepung Bayam Merah (Amaranthus tricolor L.) Pada Pakan Komersil Terhadap Peningkatan Warna Ikan Platy Pedang (Xiphophorus helleri). Skripsi tidak diterbitkan. Palu: Fakultas Peternakan dan Perikanan. Universitas Tadulako.

Priyono, E. (2013). Maskulinisasi ikan gapi (Poecilia reticulata) melalui perendaman induk bunting dalam larutan madu dengan lama perendaman berbeda. Jurnal Akuakultur Rawa Indonesia, 1(1), 13–22.

Putri, S. R., & Rusliadi, M. (2018). Pengaruh penambahan tepung wortel (Daucus sp.) dan tepung labu kuning (Cucurbita sp.) pada pakan buatan terhadap kualitas warna ikan platy pedang (Xyphoporus hellerii). Skripsi tidak diterbitkan. Pekanbaru: Fakultas Perikanan dan Kelautan. Universitas Riau.

Salmin, S. (2005). Oksigen terlarut (DO) dan kebutuhan oksigen biologi (BOD) sebagai salah satu indikator untuk menentukan kualitas perairan. Oseana, 30(3), 21–26.

Sarida, M., & Tarsim, E. B. (2010). Penggunaan madu dalam produksi ikan guppy jantan (Poecilia reticulata). In Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur. Pusat Penelitian Dan Pengembangan Perikanan Budidaya, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan, Departemen Kelautan dan Perikanan Indonesia, (pp.831-836).

Siregar, A., Syaifudin, M., & Wijayanti, M. (2018). Maskulinisasi ikan cupang (Betta splendens) menggunakan madu alami melalui metode perendaman. Jurnal Akuakultur Rawa Indonesia, 6(2), 141–152.

Soelistyowati, D. T., Martati, E., & Arfah, H. (2007). Efektivitas madu terhadap pengarahan kelamin ikan gapi (Poecilia reticulata Peters).

Swingle, H. S. (1967). Standardization of chemical analysis for waters and pond muds. FAO Fisheries Report, 4(44), 397–421.

Tamaru, C. S., Cole, B., Bailey, R., Brown, C., & Ako, H. (2001). A manual for commercial production of the swordtail, Xiphophorus hellerii. Center for Tropical and Subtropical Aquaculture.

Ukhroy, N. U. (2008). Efektivitas propolis terhadap nisbah kelamin ikan guppy Poecilia reticulata.

Zairin Jr, M. (2002). Sex reversal: memproduksi benih ikan jantan atau betina. Penebar Swadaya.

Published

28-04-2023

How to Cite

Mangia, A. D., Serdiati, N., & Widiastuti, I. M. (2023). Maskulinisasi Ikan Platy Pedang (Xiphophorus hellerii) melalui Perendaman Larva dalam Larutan Madu dengan Dosis Berbeda. Jurnal Ilmiah AgriSains, 24(1), 1–8. https://doi.org/10.22487/jiagrisains.v24i1.2023.1-8